Cicipi Jubada dan La’ang, Wabup Imam Hasyim Dorong Pemasaran Diperluas
- Yudie -
- 31 Aug, 2026
Cicipi Jubada dan La’ang, Wabup Imam
Hasyim Dorong Pemasaran Diperluas
SUMENEP
I MaduraNetwork.id - Sebuah gelas berisi La’ang tersaji di salah satu
stan Desa Wisata Pragaan. Minuman tradisional berbahan nira siwalan itu
berwarna bening kecokelatan. Di sebelahnya, Jubada—camilan kecil berwarna
cokelat yang diikat dengan tali dari daun siwalan—menjadi salah satu produk
yang dipamerkan dalam Madura Culture Fest (MCF) 2026 di Stadion GOR A. Yani
Sumenep, Minggu malam, 30 Agustus 2026.
Wakil Bupati Sumenep KH Imam Hasyim yang mengunjungi stan tersebut
mencicipi keduanya. Ia mengapresiasi rasa produk tradisional itu sekaligus
meminta agar pengembangannya tidak berhenti pada kegiatan pameran. “Ini manis
sekali, tanpa pengawet ya. Kembangkan, pasarkan agar makin dikenal,” kata Imam.
Bagi pemerintah daerah, produk seperti Jubada dan La’ang bukan sekadar
panganan tradisional, melainkan bagian dari kekayaan lokal yang dapat
dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.
Camat Pragaan Indra Hernawan mengatakan Jubada merupakan salah satu camilan khas Sumenep yang berpusat di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan. Bentuknya menyerupai dodol kering berukuran kecil, kira-kira sebesar jari kelingking. Bahan dasarnya terdiri atas tepung jagung, gula merah, dan air nira siwalan atau La’ang.
Adonan tersebut dibentuk dalam ukuran kecil, kemudian
dikelompokkan dan diikat menggunakan daun siwalan. Selain rasa original yang
manis dan legit, Jubada juga dibuat dalam varian jahe.
Produk itu, menurut Indra, cukup diminati pengunjung ketika
diperkenalkan dalam berbagai kegiatan. “Kita kenalkan Jubada dan memang camilan
ini yang banyak laku dan dicari oleh pengunjung,” ujarnya.
Tantangannya kini bukan semata mempertahankan resep dan cara produksi,
melainkan membawa produk tersebut keluar dari pasar tradisional menuju konsumen
yang lebih luas. Pemerintah Kecamatan Pragaan pun berupaya memperkuat
pemasaran, termasuk melalui ruang digital.
Dorongan Imam menjadi semacam penanda bahwa kuliner tradisional perlu
diperlakukan sebagai bagian dari potensi ekonomi kreatif. Jubada memiliki
cerita tentang jagung, gula merah dan tradisi masyarakat siwalan, sedangkan
La’ang merepresentasikan hasil alam yang sejak lama melekat dalam kehidupan masyarakat
Madura.
Jika pengemasan, mutu, pemasaran, dan distribusinya terus dibenahi, dua
produk itu tidak hanya berhenti sebagai oleh-oleh dari Pragaan. Harapannya,
Jubada dan La’ang dapat menemukan konsumen baru di luar Madura. “Semoga Jubada
dan La’ang semakin mendunia,” kata Indra.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

